Paus adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik beliau adalah Bishop of Rome, Wakil Kristus di dunia ini. Paus adalah pengganti St. Petrus. kita percaya bahwa Gereja harus bertahan sampai akhir jaman dan untuk bertahan sampai akhir jaman Gereja butuh seorang pemimpin oleh karena itulah Yesus mengangkat Petrus sebagai kepala Para Rasul. Gereja Katolik mengimani Para Paus sebagai pengganti St. Petrus dengan suksesi apostolik.
Dalam Perjanjian Baru Petrus diangkat sebagai dasar yang kokoh bagi Gereja Kristus “Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Ku-dirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18)Yesus menjamin Gereja-Nya yang dibangun diatas Batu Karang (=Petrus) tidak akan sesat “alam maut tidak akan menguasainya” . Banyak saudara kita dari Protestan mengatakan bahwa matius 16:18 dalam bahasa Yunani dikatakan “engkau adalah Petrus (Yun: Petros) dan diatas batu karang (Yun: Petra) ini kudirikan jemaatku…” mereka mengatakan bahwa “Petros” (batu karang kecil) dan “Petra” (batu karang besar/bongkahan) itu mengacu pada hal yang berbeda. Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa Yesus berbicara menggunakan bahasa Aram. Dalam bahasa Aram nama Simon Petrus adalah Kefas (kepha) lihatlah pada Yoh 1:42. kata “Kepha”  bila diterjemahkan ke Yunani sebenarnya adalah “Petra”. Tetapi dalam bahasa Yunani dikenal kata benda betina (Feminime Noun), kata “Petra” adalah Feminim noun dan bila digunakan untuk menyebut Simon Petrus maka agak janggal (tidak mungkin laki-laki dipanggil dengan nama perempuan) oleh karena itu penterjemah menggunakan kata “Petros”. Klaim ini tidak hanya dibuat Teolog Katolik tetapi juga Protestan dan Ortodoks:
  1. Prof William Hendriksen Th.D. Reformed Protestant Scholar, dalam New Testament Commentary: Exposition of Gospel According to Matthew, hal 647: “The meaning is, ‘You are Peter, that is Rock, and upon this rock, that is, on you, Peter, I will build my church.’ Our Lord speaking aramaic probably said, ‘And I say to you, you are Kepha, and on this Kepha I will built my church.’ Jesus, then, is promising Peter that he going to build his Church oh Him! I accept this view.”
  2. Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Kontemporer (David P. Purnomo) dari CD-ROM SABDA: “walaupun “petros” boleh diterjemahkan sebagai “batu” atau “batu karang” yang tersendiri dengan pengertian bahwa batu karang tersebut adalah “kecil”, sedangkan “petra” adalah “batu karang
    yang besar” atau yang masih terbentuk “gunung”, tetapi kedua kata tersebut berasal dari akar kata yang sama. Kedua kata ini di dalam bahasa Arami juga mempunyai terjemahan yang sama, yaitu “Kepha” (di dalam bahasa Indonesia: Kefas, Yoh 1:42). Maka di dalam bahasa Arami istilah “Kepha” akan muncul dua kali dalam ayat tersebut.Dalam bahasa Yunani, “petra” adalah kata benda yang berbentuk betina, maka tidak sesuai sebagai nama yang diberikan untuk Simon, sehingga harus memakai “petros” yang berbentuk jantan untuk menyebut Simon.Menurut susunan kalimat dalam ayat tersebut antara “petros” dan “petra” terdapat kata penghubung “kai” (dan). Ini menunjukkan bahwa “Petros” dan “Petra” mempunyai hubungan erat, bukannya yang satu menunjukkan Petrus dan yang lain menunjukkan Kristus atau pengakuan iman Petrus.Seandainya yang dimaksud “batu karang ini” adalah Kristus, maka perkataan “Engkau adalah Petrus”, sama sekali tidak ada arti. Dalam bahasa Yunani, biasanya kata pengganti “ini” (outos) berkaitan dengan kata precedent yang terdekat. Dalam  Matius 16:18, “Petros” (Petrus) adalah precedent yang terdekat dengan “Batu karang ini.” Dengan lain kata, “batu karang” yang dimaksud oleh Tuhan adalah Petrus.”
  3. John Meyendorf, Teolog Orthodoks dalam Primacy of Peter
    Hal 14: “He (Peter) has received the messianic title of the ‘Rock’, a title which ini biblical language belongs to the Messiah himself.”
    Hal 28: “This negative statement (concerning Peter’s power) However, does not sufficiently explain all that the Bible means by the messianic image of the Petra or the Rock, an image which Christ applies to Peter alone.
  4. Veselin Kesich, Professor Emeritus di St. Vladimir Seminary, dikutip dalam buku Primacy of Peter hal 47-48: ” ‘You are Peter (Petros) and on this rock (Petra) I Will build my church (mouten ekklesian).’ These words are spoken in aramaic, in which Cephas stands both for Petros and Petra
  5. Raymond E. Brown, Lutheran, dalam buku Peter in the New Testament, hal 92: “on that level, precisely because of  the aramaic, identity of Kepha, there can be no doub that the rock on which the church was to be built was peter.
  6. dan sumber-sumber lain misalnya dari Gerhard Maier (Teolog Lutheran) dalam buku Biblical Interpretation and Church Text and Context (Terjemahan oleh HP Dressler) halaman 60; DA Carson, Professor of New Testament, Babtist Protestant dalam The Expositor’s Bible Commentary; dll
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) bila kita perhatikan baik-baik “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga” mirip sekali dengan Yesaya 22:22 “Kunci rumah Daud…apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup…..” yang perannya juga mirip dengan “Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” jadi Kristus memberikan kunci ini kepada Petrus dari hal ini jelaslah Petrus memiliki Wewenang yang lebih (apalagi diberikan kunci yang seperti itu). Petrus-pun didoakan secara khusus supaya imannya jangan gugur dan bila sudah insaf harus menguatkan saudara-saudaranya (Luk 22:32) ini jelas sekali mengapa Yesus tidak turut mendoakan murid yang lain hanya Petrus sendiri disini jelaslah bahwa Petrus mempunyai Peran yang besar diantara para rasul yang lain. pada perikop Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias (21:1-14) disana jelas Yesus berkata “…Gembalakanlah domba-dombaku” kata-kata ini ditujukan kepada Petrus ini pula yang menunjukkan Peranan Petrus yang khusus. Peran peran Petrus antara lain: dalam kisah 4:1-13 Petrus berbicara dengan lantang (ayat 8) saat berada di mahkamah agama, sebelum pentakosta Petrus memimpin rapat penggantian Yudas (kis 1:15-26), Petrus berkotbah saat pantekosta didampingi 11 rasul yang lain (kis 2:14-36), dll. Petrus juga memainkan peranan dalam Konsili Yerusalem (kis 15:1-21) ini terlihat setelah Petrus berbicara panjang lebar maka setelah bicara semua yang lain diam (kis 15:12) baru sesudah itu Paulus & Barnabas yang bicara setelah mereka berbicara semuanya tidak terdiam seperti saat Petrus yang berbicara dan sesudah berbicara sehingga Yakobus harus berkata “saudara-saudara dengarkan aku” (kis 15:13) ini menunjukkan bahwa sejak awal mula Petrus berwibawa dan pasti memiliki wewenang yang lebih di antara rasul-rasul yang lain dan Yakobus bukanlah pemimpin sidang itu melainkan sebagai Juru bicara sejak awal mula justru Petrus-lah yang tampil sebagai pemimpin (mis: dalam kis 1:13-26;2:14;2:41;3:6-7;5:1-11;8:21,dll).
Apakah Jabatan dan Kedudukan Petrus diwariskan?
Semua Bapa Gereja mengatakan “Ya” seperti misalnya ungkapan dari St. Irenaeus: “But Since it would be too long to enumerate in such a small volume as this the succession of all the churches, we shall confound all those who, in whatever manner, whether through self-satisfaction or vainglory, or through blindness and wicked opinion, assemble other than where it is proper, by pointing out here the successions of the bishop of the greatest and most ancient Church know all, Founded and organized at Rome by two most glorious, Peter and Paul, That Church which has the tradition and the faith which comes down to us after having been announced to men by apostle. For with this Church, because of its superior origin, all the Churches must agree, that is, all the faithful in the whole world; and it is in her that the faithful everywhere have maintained the Apostolic tradition” (3, 3, 2; Jurgens, p.90,#210). Secara logika kita dapat melihat bahwa Gereja mula-mula tidak menolak hal ini. Kita lihat Rasul terakhir St. Yohanes (wafat sekitar tahun 100) tidak menolak camput tangan Paus St. Clement (Paus ke IV dalam Gereja Katolik) pada Keuskupan di Korintus. Andaikata paham KePausan salah atau tidak sesuai dengan Alkitab dan Tradisi Apostolik, tentu saja paham ini ditolak oleh Gereja. Apalagi pada masa Paus Clement (th 88-97) dimana pada saat itu sudah dikenal paham KePausan, dan pada masa itu pula masih hidup murid-murid hasil didikan Para Rasul Yesus, jadi jika KePausan salah sudah tentu terjadi penolakan. Tetapi sejarah gereja menyatakan tidak ada penolakan, bahkan lembaga kePausan ini juga turut ambil bagian dalam penentuan Kanon Kitab Suci . Penolakan terhadap lembaga KePausan baru ada sekitar tahun 1054 karena sebelumnya antara Gereja Barat (Romawi) dan Gereja Timur (Konstantinopel) terjadi perselisihan yang faktor utamanya adalah karena faktor politik yang disebabkan perpindahan Ibukota kerajaan Romawi dari Roma ke Konstantinopel. Reformasi Protestan juga menolak KePausan.
Bila kita mencoba melihat dalam Kitab Suci , jelas bahwa jabatan Petrus dan para rasul yang lain harus diwariskan. Mengapa? karena Gereja harus bertahan sepanjang masa (Mat 28:20) untuk mewartakan kabar baik (Mat 28:16-20). Kita tahu bahwa para rasul tidak mungkin dapat bertahan selamanya (karena mereka manusia) tetapi Gereja harus bertahan, oleh karena itulah jabatan Petrus dan para rasul diteruskan kepada pengganti mereka yaitu Paus, Uskup dan para Imam. Kita juga mengetahui bahwa Gereja dibangun atas dasar para rasul dengan Petrus sebagai kepala para rasul. Yesus pernah menekankan pentingnya Pondasi (Mat 7:24-27) dan kita tahu bahwa Gereja dibangun dengan dasar yang teguh (Mat 16:18) oleh karena itu, secara logika, jelas bahwa Jabatan Petrus dan para rasul harus diwariskan, karena Pondasi itu harus tetap mendasari Gereja, agar Gereja tetap kokoh berdiri. Contoh nyata dari kekokohan pndasi ini adalah bertahannya Gereja Katolik selama hampir 2000 tahun, walaupun selama perjalanan hidupnya Gereja Katolik mengalami penganiayaan, kejayaan, perpecahan, dll. Tetapi kita lihat Perlindungan Roh Kudus kepada Gereja, sehingga Gereja tetap ada sampai sekarang.
Paus Yohanes Paulus IIAdik-adik kita dari gereja Protestan mengatakan bahwa Petrus tidak infalibel buktinya dalam Galatia 2:11-14 dimana Petrus ditegor paulus karena munafik. dalam sejarah ada Paus yang ditegur misalnya oleh St.Katerin dari sienna dan seorang kardinal yang meminta Paus Yohanes Paulus II mundur, dll.
Maksud Infalibel disini bukan berarti setiap statment Paus itu benar apalagi menyangkut IPTEK, kedokteran,dll. Infalibilitas disini berarti ajarannya (Paus)  tidak dapat sesat (infallibilitas) khususnya yang berkaitan dengan iman dan kesusilaan, sesuai dengan apa yang ditegaskan dalam Lumen Gentium 25, Karena Kristus sendiri menjamin: “Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Ku-dirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat 16:18) “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19). ada 3 syarat yang harus dipenuhi agar Ajaran Paus dipandang tidak dapat sesat yaitu:
  1. Ajaran itu harus mengenai Iman & Kesusilaan.
  2. Ia harus mengajar sebagai kepala Gereja universal. ia berbicara secara Ex-Cathedra
  3. Paus harus secara jelas bermaksud mengikat gereja sepenuhnya
    jika ketiga persyaratan itu tidak terpenuhi maka hukum gereja menyatakan bahwa ajaran itu tidak dapat dipandang sebagai “Tidak dapat sesat” (Kanon 749.3)
Secara teologis “Tidak dapat sesat” pertama-tama diberikan kepada Gereja (karena gereja dalah Pondasi kebenaran “…jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (1 tim 3:15); bdk Matius 18:15-20) lalu kepada Paus sebagai kepala Gereja.
Lalu bagaimana akhir dari hidup Petrus?
Menurut tradisi kuno Petrus meninggal sebagai martir di kota Roma bersama Paulus.
Apa benar Petrus ada di Roma?
1 Petrus 5:13 mengatakan “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon, …..” kawanmu merujuk pada Petrus sedangkan Babilon adalah nama lain dari kota Roma.
Bagaimana Peran Paus (Uskup Roma) pada masa awal kekristenan?
Peran Uskup Roma antara lain:
  1.  Pada tahun 80 Masehi, Paus Clement I menulis surat kepada umat di Korintus mengenai pertikaian disana dan memerintahkan mereka untuk mengembalikan keuskupan kepada uskup yang sah. Nah ada hal-hal menarik untuk diungkapkan disini. Pertama, Korintus adalah keuskupan yang tersendiri, bukan bagian dari keuskupan Roma, malahan letaknya jauh dari Roma. Kedua, pada masa itu Rasul Yohanes masih hidup (beliau meninggal sekitar tahun 100 AD) dan bahkan tinggal di Efesus yang jauh lebih dekat ke Korintus daripada Roma (lihat peta Alkitab). Adalah suatu hal yang aneh bin ajaib bahkan luar biasa bahwa otoritas Gereja di Korintus minta bantuan pada Uskup Roma dan bukannya pada Rasul Yohanes yang pernah jalan-jalan di samping Yesus sendiri!. Pope Clement I: “Owing to the sudden and repeated calamities and misfortunes which have befallen us, we must acknowledge that we have been some what tardy in turning our attention to the matters in dispute among you, beloved, and especially that abominable and unholy sedition, alien and foreign to the elect of God, which a few rash and self-willed persons have inflamed.” “Accept our counsel and you will have nothing to regret.. . … If anyone disobey the things which have been said by him [God] through us [i.e., that you must reinstate your leaders], let them know that they will involve themselves in transgression and in no small danger.” “You will afford us joy and gladness if being obedient to the things which we have written through the Holy Spirit, you will root out the wicked passion of jealousy” (Letter to the Corinthians 1:1, 58:2-59:1, 63:2 [A.D. 80]).
  2. Paus Damasus atas dorongan Konsili Roma pada tahun 382 mengeluarkan dekrit yang berisi daftar 73 kitab-kitab dalam Alkitab
  3. Paus Innocentius I (401-417) pada tahun 405 menyetujui ke-73 kitab-kitab tersebut dan MENUTUP KANONISASI ALKITAB setelah sebelumnya Konsili Hippo pada tahun 393 menyetujui kanonisasi Alkitab yang terdiri dari 73 buku.Konsili Kartago pada tahun 397 kembali menguatkan keputusan konsili sebelumnya dengan menyetujui kanonisasi 73 kitab-kitab tersebut.
  4. dll
Berikut ini kesaksian dari St. Irenaeus Tentang Ke-Pausan:
Rasul-rasul yang kudus (Petrus dan Paulus), setelah mendirikan dan membangun Gereja (Katolik di Roma), menyerahkan kursi keuskupan kepada Linus. Paulus menyebutkan tentang Linus ini dalam surat kepada Timotius (2 Timotius 4:21). Dia digantikan oleh Anacletus, dan setelahnya, pada urutan ketiga dari para Rasul, Clement diangkat sebagai uskup. Dia telah bertemu muka dengan para Rasul yang kudus dan bersama-sama mereka. Boleh dikatakan bahwa dia masih mendengar gema khotbah para Rasul, dan menyaksikan tradisi-tradisi mereka dengan mata kepalanya sendiri. Dan tidak hanya dia, karena masih ada banyak lagi yang lain, yang telah diajarkan langsung oleh para Rasul.
…Setelah Clement, Evaristus menggantikan, dan AlexanderAlexander Menggantikan Evaristus. Lalu, yang keenam setelah Rasul, Sixtus diangkat, setelahnya Telesphorus, yang juga menjadi martir dengan mulia. Lalu Hyginus, dan setelahnya, Pius, dan setelahnya AnicetusSoter menggantikan Anicetus, dan sekarang, di tempat kedua-belas setelah Rasul, kedudukan uskup jatuh kepada Eleutherus. Dalam urutan ini, dan melalui ajaran para Rasul yang diteruskan dalam Gereja, kotbah kebenaran telah sampai kepada kita. (Santo Irenaeus, uskup Lyons, Perancis. Lahir tahun 140 – wafat tahun 202. Salah satu Bapa Gereja.)

Sumber: Tentang Ke-Pausan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here