Bagian Pertama: Pendidikan Iman Bagi Anak

A. Keluarga Kristiani

Di mata orang Kristen, keluarga mempunyai martabat yang luhur dan peran yang penting, baik dalam Gereja maupun dalam masyarakat. Menurut Kitab Suci, perkawinan dan keluarga disiapkan dan diberkati oleh Allah sendiri. Melalui perkawinan, seorang pria dan wanita diutus untuk beranak cucu dan bersatu menjadi satu pasangan tak-terpisahkan (Kej 1-2).

Gereja mengajarkan, bahwa Allah menyiapkan dan memberkati perkawinan dan keluarga karena beliau mempunyai rencana dan tujuan tertentu. Tentang keluarga, hal-hal berikut perlu mendapat perhatian kita:

  • Keluarga adalah unit dasar dari masyarakat: menurut rencana Allah, keluarga terdiri dari satu pria, satu wanita, dan anak-anak (Kej 1-2).
  • Keluarga adalah tempat pertama dan utama untuk melatih dan mendidik anak-anak.
  • Keluarga adalah tempat untuk melatih para calon pemimpin.
  • Keluarga Kristen merupakan sebuah Gereja kecil.

Sayang, dewasa ini timbul banyak sekali faktor yang dapat memecah belah keluarga. Komunitas kasih itu tidak selalu utuh, anggotanya mudah tercerai berai, entah karena perceraian secara resmi, entah karena perpisahan yang terjadi begitu saja.

Berikut adalah hal-hal yang dapat merusak keutuhan keluarga:

  • Rumah tidak lagi menjadi pusat kegiatan keluarga.
  • Kesibukan orang tua di luar rumah terlalu berlebihan.
  • Informasi dari media massa bisa berpengaruh negatif.
  • Tempat-tempat hiburan yang tidak sehat semakin bertambah.
  • Materialisme membuat orang cenderung mencari yang enak.
  • Budaya instant mengalahkan norma agama dan moral.
  • Tawaran akan barang-barang konsumtif semakin gencar.

Bila hal-hal diatas kurang diwaspadai dan tidak ditangani secara cepat dan tepat, keutuhan keluarga dapat berada dalam bahaya besar. Kondisi dunia dewasa ini dapat membuat setiap anggota keluarga tenggelam dalam kehidupan pribadi masing-masing.

B. Iman Kristiani

Sama dengan iman non-kristen, iman Kristen terarah kepada Allah. Seperti orang-orang beragama lain, orang-orang beragama Kristen percaya penuh kepada Allah. Namun, berbeda dari iman non-kristen, iman Kristen terkait sangat erat dengan Yesus Kristus. Berbeda dari orang-orang non-kristen, orang-orang Kristen percaya kepada Bapa, dengan kekuatan Roh Kudus, dengan perantaraan Yesus Kristus

Selanjutnya, tentang iman orang Kristen, hal-hal berikut kiranya perlu diperhatikan:

  • Iman merupakan tindakan dan keputusan pribadi, untuk membuka diri demi hidup baru, dalam Yesus Kristus.
  • Beriman berarti percaya penuh kepada Yesus Kristus, percaya akan Injil Kristus sebagai firman Tuhan dan sebagai kabar suka cita, percaya bahwa Injil Kristus adalah kebenaran.
  • Iman tidak terombang-ambing oleh perasaan, karena lebih merupakan suatu ketetapan hati.

C. Pendidikan Anak Dalam Keluarga

Jauh sebelum kelahiran bayi mereka, orang tua biasanya telah mempersiapkan berbagai keperluan bayi dengan seksama: nama, pakaian, tempat tidur, ember mandi, handuk, dan sebagainya. Sayang, beberapa orang tua sering kali justru melupakan persiapan rohani, yang sebenarnya jauh lebih penting daripada persiapan jasmani itu.

Semasa masih berada dalam kandungan, anak sudah dapat dipersiapkan secara rohani. Ibunya, misalnya, sudah bisa mengajak janin di dalam kandungannya untuk berdialog. Kepada janin, misalnya, bisa diberitahukan kegiatan yang sedang dilakukan ibunya, misalnya: memasak, bekerja di kantor, pergi bersama ayahnya, pergi ke gereja, dan sebagainya.

Beberapa orang tua tidak memberikan pendidikan iman kepada anak-anak mereka sejak awal, bukan karena tidak mau, melainkan karena kurang tahu tentang cara yang tepat untuk mewariskan iman kepada anak-anak. Misalnya, karena ketrampilan dan pengetahuan mereka sendiri tentang iman juga kurang memadai.

Beberapa orang tua mengira bahwa pendidikan iman bagi anak-anak mereka dapat mereka percayakan sepenuhnya kepada para guru di sekolah katolik atau kepada para pembina sekolah Minggu di paroki. Mereka kurang sadar, bahwa pendidikan di luar rumah hanyalah pelengkap, bukan pengganti dari pendidikan di rumah.

Dalam Kitab Suci disebutkan bahwa iman itu bisa timbul dari pendengaran, dan pendengaran itu muncul dari pewartaan sabda dan karya Kristus (Rm 10:17). Maka salah satu tugas orang tua adalah: mewartakan Kristus kepada anak-anak mereka, di rumah.

Berikut adalah hal-hal yang menyebabkan kegagalan pendidikan iman anak-anak dalam keluarga:

  • Orang tua sendiri kurang sungguh beriman.
  • Orang tua terlalu mempercayakan pendidikan iman anak-anak mereka kepada pihak ketiga (sekolah, Gereja, dan sebagainya).
  • Orang tua tidak mendidik anak untuk hidup di jalan Tuhan.
  • Banyak hal di zaman ini menjauhkan anak-anak dari Tuhan.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Anak

Pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat eksternal maupun yang bersifat internal.

Yang dimaksud dengan pengaruh eksternal adalah pengaruh-pengaruh yang berasal dari luar rumah, misalnya dari media komunikasi, terutama dari TV.
Orang tua Kristen dewasa ini diharap menyadari derasnya arus dan besarnya pengaruh berbagai informasi, lewat media massa, pada kepribadian anak-anak mereka. Berbagai tayangan tentang perselingkuhan, perceraian, pergaulan bebas, kekerasan, perampokan, pembunuhan dan hal-hal negatif lainnya, pasti punya pengaruh pada kehidupan iman anak.

Selain itu, pengaruh eksternal juga muncul dari peredaran obat bius (psikotropika) yang semakin marak. Ketagihan narkotika dan zat-zat adiktif yang lain sudah terbukti merusak kehidupan begitu banyak anak. Pengaruh negatif dari zat-zat terlarang tersebut tidak boleh lagi diabaikan oleh orang tua, karena zat-zat itu benar-benar dapat merusak karakter anak-anak dalam seluruh hidup mereka.

Yang dimaksud dengan pengaruh internal adalah pengaruh-pengaruh yang berasal dari lingkungan keluarga sendiri. Pengaruh itu, misalnya, bisa datang dari suasana umum di dalam rumah. Dalam keluarga yang diwarnai hubungan yang tidak harmonis antar para anggotanya, misalnya, tidak bisa diharapkan adanya dukungan bagi pertumbuhan iman anak secara sehat.

Bagaimana mungkin iman anak dapat bertumbuh di rumah, bila di dalam keluarga tidak pernah diwartakan Kristus? Bagaimana anak-anak dapat menghormati Allah dan mengasihi sesama, bila orang tua mereka tidak pernah menghormati Allah dan mengasihi sesama?

E. Pendidikan Iman dalam Keluarga

Dalam memberikan pendidikan iman kepada anak-anak di rumah, orang tua sebaiknya mengusahakan hal-hal berikut:

  1. Berdoa, agar diberi karunia hikmat oleh Tuhan, sehingga mampu memberikan pendidikan iman kepada anak-anak.
  2. Meningkatkan iman sendiri, dengan membaca Kitab Suci, buku-buku rohani, dan buku-buku tentang pendidik anak (seperti: Kiat Sukses Mendidik Anak Dalam Tuhan; Kuasa Ucapan Berkat, dan sebagainya).
  3. Lebih banyak memberikan teladan dan membagikan pengalaman iman yang konkret daripada bersikap menggurui dengan banyak omongan yang tidak efektif.
  4. Berlaku sebagai sahabat, sehingga anak-anak mau dan mampu terbuka kepada orang tua sendiri.
  5. Mendidik anak-anak dengan banyak menyampaikan ajaran dan teladan Tuhan Yesus Kristus (Ef 6:4).
  6. Bersungguh-sungguh dalam mendidik iman anak, tidak setengah-setengah, tidak hanya hanya “kalau ada waktu” saja.
  7. Tidak pernah merasa bosan, bersedia mengulang-ulang dalam memberikan nasihat bijaksana (Ul 6:7-8).

Selain itu, berikut adalah beberapa nasihat praktis, yang juga pantas diperhatikan dalam mendidik anak-anak di bidang iman:

  1. Ajarlah anak-anak mengenai kekudusan Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan”(Mzm 111:10; Ay 28:28; Ams 1:7; 9:10; 15:33). Takut akan Tuhan tidak berarti gentar, melainkan hormat kepadaNya, tidak mau melawan kekudusanNya, patuh serta hormat pada perintah-perintahNya. “Tuhan sama sekali Kudus, dan oleh sebab itu hukum-Nya menuntut kekudusan sempurna”(Im 11:44-45; Yos 24:19). Kita perlu hidup kudus, sebab Tuhan adalah kudus Tanpa kekudusan, kita tidak bisa melihat Tuhan (1 Ptr 1:16; Ibr 12:14). Karena Tuhan kudus, Tuhan membenci dosa. Maka kalau kita berbuat dosa, Tuhan “murka” dan dapat menjatuhkan hukuman (Kel 20:5). Orang yang berdosa tidak tahan berdiri di hadapan-Nya (Mzm 1:5; 24:3-4).
  2. Tegur dan sadarkan anak-anak, bila mereka berdosa: Lakukan hal itu pada anak-anda sejak mereka masih berusia dini; jelaskan kepada mereka bahwa perilaku yang menyimpang dari ajaran Tuhan bukan hanya mengecewakan orang tua, melainkan juga mengecewakan hati Allah yang kudus. Bantulah anak-anak dalam mengembangkan hati nurani mereka, sehingga mereka akhirnya mampu menilai perilaku mereka sendiri, terutama saat mereka menyimpang dari kehendak Tuhan. Ajarkanlah kepada mereka kebenaran ini dengan kasih dan lemah lembut, bukan dengan gertakan. Menunjukkan kepada anak-anak pada dosa-dosa mereka bukanlah berarti mencari-cari kesalahan mereka, melainkan melatih hati nurani mereka dan menyadarkan mereka bahwa:
  • dosa adalah pelanggaran hukum Allah (1Yoh 3:4; 5:17)
  • dosa membuat orang mustahil memperoleh damai sejahtera yang sejati (Yes 57:20-21)
  • semua orang telah berdosa (Rm 3:23; 3:10-12)
  • dosa membuat orang menerima kematian (Yeh 18:4; Yak 1:15; Rm 6:23)
  • orang berdosa tidak layal sama sekali untuk mendapatkan keselamatan (Yes 64:6)
  • orang berdosa tidak dapat mengubah sifat dosa mereka (Yer 2:22; 13:23; Rm 8:7-8)
  • orang berdosa berada dalam keadaan tidak berdaya (Luk 12:2-3; Rm 2:16; Why 22:8)
  1. Ajarilah anak-anak agar mereka mengenal Kristus dan memahami sabda-sabda serta karya-karyaNya. Dosa bukannya tidak bisa dikalahkan. Tunjukkanlah kepada anak-anak bahwa satu-satunya jalan penebusan bagi dosa adalah Yesus Kristus. Dia adalah pusat dari berita Injil. Jadikanlah pengajaran tentang Yesus Kristus sebagai focus yang utama dari semua pelajaran rohani bagi anak-anak. Ajarkanlah kepada mereka bahwa Yesus Kristus adalah :
  • Allah yang kekal (Yoh 1:1-3,14)
  • Tuhan di atas segala tuhan (Why 17:14; Fil 2:9-11; Kis 10:36)
  • Telah menjadi manusia untuk kita (Fil 2:6-7)
  • Suci dan tanpa dosa (Ibrani 4:15; 1 Petrus 2:22-23; 1Yohanes 3:5)
  • Telah rela mencurahkan darah-Nya sendiri sebagai penebusan dosa (Ef 1:7; Why 1:5)
  • Telah wafat di kayu salib untuk menyediakan jalan bagi keselamatan orang berdosa (1 Ptr 2:24; Kol 1:20)
  • Telah bangkit dari kematian dengan kemenangan (Rm 1:4; 4:25; 1 Korintus 15:3-4)
  • Telah menyatukan diriNya dengan mereka yang percaya kepada-Nya (1 Kor 1:30; 2 Kor 5:21; Fil 3:8-9)
  • Telah membenarkan semua orang yang percaya kepada-Nya (Rm 3:24; 5:1-2.9; Gal 2:16; Yoh 5:25).
  1. Ceritakanlah kepada anak-anak, bahwa Tuhan tidak menuntut apapun dari orang berdosa. Tuhan hanya mengajak orang berdosa untuk bertobat. Pertobatan itu haruslah merupakan suatu keputusan hati untuk bersatu kembali dengan Tuhan, bukan hanya kemauan untuk menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Bertobat berarti berbalik dari dosa lalu memalingkan wajah kepada Tuhan, dengan meninggalkan sama sekali perbuatan dosa. Dalam Kisah Para Rasul (17:30) tertulis bahwa Tuhan memanggil orang berdosa untuk bertobat. Hanyalah orang yang bertobat dan beriman kepada Yesus akan diselamatkan. Keselamatan semata-mata adalah kasih karunia Tuhan, bukan hasil usaha kita (Ef 2:8-9). Maka kita tidak layak memegahkan diri, seolah-olah keselamatan itu kita peroleh dengan usaha kita sendiri.

Untuk menerima keselamatan dari Kristus itu, kita harus:

  • bertobat (Yeh 18:32; Kis 3:19; 17:30; 26:20)
  • memalingkan hati dari semua hal yang tidak menghormati Tuhan (1Tes 1:9; Yeh 14:6; 18:30; Yes 55:7)
  • mengikut Yesus (Luk 9:23; 9:62; Yoh 12:26; 15:14)
  • percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat (Kis 16:31; Rm 10:9)

Bersambung di Bagian Kedua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here